Salam Sejahtera untuk para pendidik generasi baru Indonesia.

Pada kesempatan ini “Kelas Pendidikan Klasikal” akan membahas tentang KOGNITIF VS AFEKTIF.

Pendidikan adalah Seperti Bangunan Besar, karena dalam metode pendidkan klasikal, pendidikan sama halnya seperti sebuah proses membangun satu bangunan yang besar, dan karena itu dibutuhkan pondasi yang kokoh. Pondasi ini harus diperhatikan dan dibangun sedari awal, sehingga setinggi apapun nantinya bangunan yang dibangun diatasnya, akan tetap kokoh berdiri.

Pendidikan klasikal berlandaskan pada tiga tahapan proses pembelajaran yang dikenal dengan nama Trivium: yaitu tahap Grammar, Logic, dan Rhetoric. Tahap Grammar adalah tahapan anak usia Sekolah Dasar (SD), di mana pikiran mereka berfungsi seperti spon yang siap untuk menyerap infomasi apapun yang diberikan, sehingga semua itu menjadi dasar dan kerangka berpikir dalam proses pemikiran untuk level selanjutnya.

Kemudian naik tahapan berikutnya yaitu Logic, usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana kemampuan kognitif setiap anak sudah mulai lebih analitis, yaitu mereka memahami hubungan sebab dan akibat, juga kapasitas untuk berpikir secara abstrak mulai bertumbuh. Sebab itu mereka bisa berargumentasi dengan landasan teori yang sudah diketahui, lalu menghubungkan antara berbagai hal yang berbeda dalam satu kerangka berpikir yang logis. Dan selanjutnya, tahap Rhetoric yaitu usia Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terbangun berdasarkan dua level sebelumnya – Grammar dan Logic. Di level ini mereka belajar untuk menulis dan menjadi “Public Speaker”, mengekspresikan pikiran mereka dengan jelas, berbobot, dengan menggunakan bahasa yang elegan.

Dari setiap tahapan proses pembelajaran dalam pendidikan klasikal ini, selain pola pembelajaran, pendidikan klasikal juga memiliki 4 tujuan, yaitu :

1. Menghargai pengetahuan karena keuntungannya dan bertujuan untuk  kepentingan masyarakat.

2. Menjunjung  tinggi standar ketelitian, logika berpikir, keindahan, dan prinsip kebenaran (yang diintegrasikan) dalam proses pembelajaran.

3. Mengutamakan standar moralitas.

4. Mempersiapkan manusia yang memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik.

Setiap murid terbentuk menjadi pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri, teliti, menghargai keindahan dalam seni maupun alam, dapat berpikir secara logis, bermoral tinggi supaya satu hari nanti mereka akan berikan kembali semua ilmu pengetahuan yang didapatkan untuk bangsa dan negaranya. Dan hal itu semua seperti membangun satu bangunan, yang tidak dapat jadi dalam satu malam oleh karena dibutuhkan fondasi yang sangat kokoh.

*Sesi tanya jawab:

Pertanyaan: Bagaimana cara yang ampuh dan mudah untuk dilakukan khususnya dalam hidup anak-anak usia balita?

Jawaban: Metode pendidikan klasikal termasuk pembelajaran yang bermakna, tapi sebelum sampai ke pembahasan ini, kita paparkan terlebih dahulu prinsip penting dalam dunia Pendidikan, karena pembelajaran bermakna ini sebetulnya sudah ada beberapa puluh tahun yang lalu. Dalam dunia pendidikan ada satu teori yang ditemukan oleh Benjamin Bloomdan rekan-rekannya pada tahun 1965 yang disebut dengan “Bloom taxonomy”. Taksonomi ini mengklasifikasi tahap-tahap pembelajaran seseorang. Di dalam taksonomi tersebut juga terdapat tiga aspek pembelajaran atau The Three Domains of Learning, yaitu aspek kognitif (pengetahuan), afektif (emosi dan sikap), dan psikomotorik (keterampilan fisik). Lalu pada tahun 2000, mitra Benjamin Bloom bernama David Krathwohl  bersama  siswa Bloom bernama Lorin Anderson, melakukan sebuah studi berdasarkan teori Bloom dan membuktikan bahwa aspek afektif menjadi salah satu dimensi penting dalam pembelajaran.

Tapi Sayangnya selama 2 dekade terakhir, terjadi perubahan paradigma secara massif di kalangan dunia pendidikan di seluruh dunia, sehingga pada akhirnya pendidikan hanya menitikberatkan pada aspek kognitif/pengetahuan belaka, di mana nilai menjadi fokus utamanya.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Salah satu penyebabnya adalah karena standar nasional yang dipatok oleh pemerintah sehingga sekolah pada akhirnya harus berfokus pada pencapaian nilai tertinggi. Dan juga menurut Bloom dan Krathwohl karena banyaknya pendapat yang berkata bahwa aspek sikap/perasaan/emosi tidak boleh menjadi konsumsi public. Padahal, berdasarkan pengalaman melihat anak-anak tingkatan usia Pendidikan Dasar, emosi/perasaan sangat mempengaruhi penerimaan anak terhadap materi pelajaran. Dan ini juga didukung oleh teori dari Erik Erikson, Bapak psikologi perkembangan anak yang menyatakan bahwa di usia Pendidikan Dasar yaitu 5-12 tahun, anak sedang melewati tahap “industry vs. inferiority”. Ketika mereka berhasil melakukan atau menguasai suatu kemampuan tertentu, mereka akan menjadi pribadi yang percaya diri. Sebaliknya, jika di tahap ini mereka gagal menguasai kemampuan tertentu yang seharusnya mereka kuasai, anak akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri.

Pertanyaan: Apakah emosi punya pengaruh kuat terhadap kogntif anak?

Jawaban: Betul sekali, ketika seorang anak merasa nyaman, artinya emosi dalam kondisi stabil, dia akan dapat dengan tenang menerima apapun yang guru jelaskan, sahingga akhirnya berdampak pada hasil yang dicapai. Sebaliknya ketika sang anak merasa kurang  percaya diri  ketika harus melakukan presentasi di depan kelas, dan itu ada dalam perasaan, maka pasti hasil akhirnya kurang memuaskan apalagi ketika performa termasuk dalam penilaian, lalu karena satu hal ini bisa merembet kepada pelajaran pelajaran yang lainnya. Semua terjadi karena emosi yang tidak stabil.

Hal tersebut dikofirmasi oleh seorang psikolog dan pakar dalam dunia Pendidikan:  Sylvia Rosenfield; beliau mengatakan bahwa emosi memiliki keterkaitan penting dengan memori atau daya ingat, karena emosi turut berperan dalam menyimpan dan memicu memori seseorang, dan bahkan mempengaruhi kemampuannya untuk menangkap dan memahami sesuatu. Artinya, aspek emosi dan sikap ini terintegrasi atau merupakan satu kesatuan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan dalam sebuah pembelajaran.

Pertanyaan: Apa yang sudah dilakukan untuk anak-anak yang memiliki kebutuhan dalam emosi mereka?

Jawaban:  Dalam aspek afektif juga terdapat nilai-nilai kehidupan yang seseorang miliki, dimulai dari sinilah anak dapat memunculkan berbagai sikap – bagaimana ia membawa diri dalam diskusi kelas, memperlakukan orang lain dalam interaksi sosial, bahkan bagaimana ia dapat diterima dan berfungsi di masyarakat.  Jadi saat ada momen di mana anak merasa malu karena performancenya di kelas kurang bagus, kita justru dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk membangun rasa empati dari teman teman kelas lainnya. Di satu sisi, kami minta teman-temannya untuk memberi dorongan atau menyemangati anak yang kurang bisa ini, dan di sini juga kita mengajarkan sikap menghargai orang lain. Di sisi lain, anak yang tadinya kurang mampu, ketika melihat bahwa teman-temannya memberi dukungan dan semangat, pasti mulai tumbuh keoptimisan dan keinginan untuk mencoba kembali, dan itu adalah proses pembelajaran yang sesungguhnya, bukan secara akademis atau kognitif, namun secara afektif yang dilibatkan.

Dalam hal ini kita dapat menarik satu kesimpulan bahwa adanya keterhubungan yang sangat kuat antara aspek afektif dan kognitif: seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan… karena seorang anak yang memiliki emosi yang positif pasti akan dapat menilai secara positif pentingnya belajar, itu adalah aspek afektif, sehingga seorang anak akan lebih mudah untuk memahami dan menguasai apa yang dipelajari, dan itu aspek kognitif. Lalu kembali lagi ke aspek afektif, saat anak dapat memahami dan menguasai sesuatu, akan mengakibatkan munculnya rasa percaya diri dalam didi seorang anak yang dapat mendorongnya memunculkan sikap tidak mudah menyerah, selalu mau mencoba, dan otomatis murid seperti ini memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil mencapai nilai yang baik dan itu aspek kognitifnya.

Ada beberapa artikel yang menjelaskan bahwa selama 2 dekade terakhir, banyak orang-orang yang berpengetahuan tinggi tetapi tanpa sikap dan moral yang mendukung. Mereka mungkin ahli dalam membuat analisis dan hipotesa, tetapi gagal dalam bersikap dan membawa diri, sehingga di mana-mana kita banyak mendengar cerita/berita tentang bullying terjadi. Alasan hal itu bisa terjadi salah satu penyebabnya adalah karena selama ini penekanannya hanya pada nilai yang tinggi, sehingga murid berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik secara akademik belaka sehingga akhirnya muncul persaingan, dan dalam sebuah persaingan, yang kuat akan menekan dan mengalahkan yang lemah. Miris melihat kemerosotan yang terus terjadi, dan artinya nilai bagus bukan penentu keberhasilan seseorang, artinya  aspek afektif harus di-integrasikan dengan aspek kognitif dalam pembelajaran. Dan Thomas J. Stanley, Ph.D, seorang penulis buku yang berjudul Millionaire Mind, melakukan riset tentang 100 faktor penentu kesuksesan seseorang. Riset dilakukan di Amerika dengan total 1001 responden, di mana 733 responden adalah miliuner, dan beliau mendapati bahwa 10 faktor utama penentu kesuksesan seseorang adalah soft-skill atau karakter.

Sumber: Rubi Mirayani, B.A., M.Pd. (Head Principal of Quiver Center Academy) dan Leony Maranatha (Grammar’s Principal of Quiver Center Academy)

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2020. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut