Salam Sejahtera untuk para pendidik generasi baru Indonesia!!!

Pada kesempatan saat ini dalam “Kelas Pendidikan Klasikal” akan membahas Pendidikan Klasikal dengan Tema: MELATIH ANAK BERTANYA YANG BERMAKNA.

Pendidikan klasikal berlandaskan pada tiga tahapan proses pembelajaran, yang dikenal dengan nama trivium : Grammar. Logic dan Rhetoric. Di tahap grammar untuk anak usia seputar Sekolah Dasar(SD), pikiran mereka siap untuk menyerap sebanyaknya infomasi yang diberikan, sehingga semua itu menjadi dasar dan kerangka berpikir dalam proses pemikiran untuk level selanjutnya.

Kemudian naik tahapan berikutnya yaitu Logic, usia Sekolah Menengah Pertama(SMP) dimana kemampuan kognitif setiap anak sudah mulai lebih analitis yaitu mereka memahami hubungan sebab dan akibat, juga kapasitas untuk berpikir secara abstrak mulai bertumbuh. Sebab itu mereka bisa berargumentasi dengan landasan teori yang sudah diketahui, lalu menghubungkan antara berbagai hal yang berbeda dalam satu kerangka berpikir yang logis. Dan selanjutnya, tahap Rhetoric usia Sekolah Menengah Atas(SMA) yang terbangun berdasarkan dua level sebelumnya grammar dan logic. Di level ini mereka belajar untuk menulis dan menjadi “Public Speaker”, mengekspresikan pikiran mereka dengan jelas, berbobot, dengan menggunakan bahasa yang elegan.

Dari setiap tahapan proses pembelajaran dalam pendidikan klasikal ini, selain pola pembelajaran, pendidikan klasikal juga memiliki 4 tujuan, yaitu :

  1. Menghargai pengetahuan karena keuntungannya dan bertujuan untuk  kepentingan masyarakat.
  2. Menjunjung  tinggi standard ketelitian, logika berpikir, keindahan, dan prinsip kebenaran yang (diintegrasi) dalam proses pembelajaran.
  3. Mengutamakan standar moralitas.
  4. Mempersiapkan manusia yang memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik.

Setiap murid terbentuk menjadi pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri, teliti, menghargai keindahan dalam seni maupun alam, dapat berpikir secara logis, bermoral tinggi supaya satu hari nanti mereka akan berikan kembali semua ilmu pengetahuan yang di dapatkan untuk bangsa dan negaranya. Dan hal itu semua seperti membangun satu bangunan, yang tidak dapat jadi dalam satu malam oleh karena dibutuhkan fondasi yang sangat kokoh.

Dalam proses pembelajaran, aspek pertanyaan menjadi sesuatu yang sangat penting dan harus dilakukan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Yang perlu dipastikan oleh seorang guru adalah sudah seharusnya menguasai dan memahami betul apa peranan sebuah  “PERTANYAAN”.

Apakah selama ini lebih banyak guru-guru yang mengajukan “PERTANYAAN” ke murid ataukah sebaliknya?

Dari hasil observasi dan survey singkat kepada guru-guru di sekolah secara umum, yang sering terjadi biasanya pertanyaan-pertanyaan lebih sering datang dari guru dan ditujukan kepada murid, dan bukan sebaliknya. Dalam hal ini seperti apa yang seharusnya terjadi? Tapi Sebelum kita masuk dalam pembahasan mengenai pertanyaan, saya ingin menjelaskan sedikit dari sebuah teori dalam pendidikan yang bernama konstruktivisme.

Apakah ada hubungannya antara MEMBANGUN dan melakukan satu KONSTRUKSI ?

Konstruktivisme adalah teori yang menyatakan bahwa pembelajaran bersifat generatif, di mana setiap orang MEMBANGUN PENGETAHUANNYA SENDIRI BERDASARKAN DARI APA YANG ORANG TERSEBUT PELAJARI. Dari teori ini, prinsip mendasar yang perlu diperhatikan adalah guru berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.

Makna belajar menurut konstruktivisme adalah suatu kegiatan yang aktif, di mana para murid mengggali sendiri pengetahuannya, mencari dan menemukan makna dari apa yang mereka pelajari dan menyusunnya dalam kerangka berpikir dan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya.

Jadi hal tersebut seperti seorang membangun satu bangunan, satu batu bata disusun di atas batu bata lainnya, lalu tanpa ada batu bata sebelumya maka batu bata yang baru tidak dapat diletakkan. Dan bangunan tidak akan pernah jadi.

Dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, batu batanya adalah pertanyaan yang menjadi alat yang luar biasa dalam satu proses pembelajaran. Karena satu pertanyaan yang baik akan mengkondisikan munculnya rasa ingin tahu dan kemudian mencetuskan pertanyaan baru yang berasal dari pemikiran, itu adalah cikal bakal seseorang menjadi seorang peneliti. Dalam proses pembelajaran yang  kita sudah jalani, biasanya kita cenderung memberikan apresiasi saat murid mahir menjawab pertanyaan. Tetapi, dalam upaya mengkonstruksi pengetahuan, hal penting yang perlu dimiliki oleh setiap murid adalah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan. Berawal dari sebuah pertanyaan, seseorang akan mulai secara alamiah aktif mencari jawaban, menganalisis dan mengevaluasi jawabannya sampai akhirnya ia memperoleh suatu ‘konstruksi’ yang baru dalam pikirannya.

Seorang murid yang mengajukan pertanyaan di tengah-tengah proses pembelajaran menunjukkan bahwa ada proses berpikir yang sedang berlangsung secara aktif dalam pikirannya.

Ada beberapa alasan mengapa kita harus mendorong murid-murid untuk mengajukan pertanyaan di kelas:

Yang pertama, ketika seorang murid mengajukan pertanyaan, kondisi kelas tidak akan menjadi monoton bagi para murid. Bayangkan saja jika guru terus-terusan yang berbicara, tentunya pasti kegiatan belajar menjadi sangat membosankan bagi murid. Murid bisa-bisa tertidur karena merasa bosan ketika hanya mendengarkan secara pasif. Munculnya sebuah pertanyaan berpotensi mencairkan suasana yang kaku di dalam kelas.

Yang kedua, ketika seorang murid mengajukan pertanyaan, hal itu menandakan bahwa murid itu berpikir. Ada dua org peneliti Paul dan Elder berkata bahwa “Thinking is not driven by answers but by questions”. Kemampuan berpikir akan berkembang dengan adanya pertanyaan-pertanyaan, bukan karena jawaban-jawaban. Ketika murid-murid mengajukan pertanyaan, artinya mereka memproses hal-hal yang dipaparkan di dalam kelas dalam proses berpikir yang lebih lanjut dalam pikiran mereka.

Yang ketiga, pertanyaan adalah tanda ketertarikan. Ketika anak baru dapat bicara, mereka sangat gemar bertanya, karena ingin tahu ini dan itu, lalu kita menjadi kesal yang letih menjawab mereka, dan akibatnya mereka justru manjadi anak yang malas bertanya atau justru malu karena mungkin pernah pertanyaannya ditertawakan. Padahal, rasa ingin tahu adalah kebiasaan yang harus terus dipupuk karena ketika seseorang bertanya, artinya mereka aktif berpikir. Yang harus dilakukan ketika menghadapi banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak adalah dengan meresponi setiap pertanyaan mereka dengan pertanyaan yang lain yang menstimulasi otak mereka untuk mencari jawaban dari pertanyaan mereka sendiri.

Yang keempat, dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para murid, para guru akan jadi semakin terasah dan menjadi guru yang lebih baik.

kita mendapatkan seorang anak yang begitu kreatifnya dan aktif bertanya, namun pertanyaannya tidak ada di dalam pelajaran dan terkadang dapat membuat gurunya menjadi bingung menjawabnya, karena memang tidak ada satu guru pun di dunia ini yang dapat memiliki jawaban dari semua pertanyaan. Jika hal itu terjadi, sebagai seorang guru, tidak perlu kuatir atau panik. Jadikan saja  pertanyaan yang ada sebagai bahan diskusi di kelas, menanyakan pendapatnya dan pendapat teman-teman sekelasnya mengenai jawaban dari pertanyaan tersebut. Kita juga dapat mengajak murid kita mencari jawabannya bersama, dengan membuka kamus atau bahkan mengakses internet bersama. Atau dalam kasus-kasus tertentu, kita dapat memberi tahu murid kita dengan jujur ​​bahwa kita akan menyiapkan jawabannya di pertemuan berikutnya. Hal ini akan membuat kita disukai murid-murid karena kita menunjukkan kepada mereka bahwa belajar adalah proses yang tidak pernah berakhir.

Hal terpenting yang harus dimiliki anak-anak abad ke-21 adalah keinginan untuk menjadi “Lifelong Learner” yang memiliki kemampuan berpikir kritis; artinya mereka harus mahir dalam mengajukan pertanyaan yang tepat.

Di Sekolah Quiver Center Academy, inilah yang dilakukan dan dilatih agar murid memakai “tools of learning” mereka yaitu atau alat perangkat yang terhilang yang ada di dalam struktur berpikir murid. Salah satu hal yang ingin dibangun melalui pendidikan klasikal adalah kemampuan murid melakukan inkuiri sendiri secara aktif. Sekolah Quiver Center Academy melatih murid untuk mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban serta memecahkan masalah yang mereka temui, sehingga setiap murid dapat menggunakan materi apapun sebagai pemikir independen.

Bagaimana mengkondisikan pikiran murid-murid selalu aktif berpikir?

Dalam proses pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator yang harus membantu para murid untuk mengajukan pertanyaan. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan di dalam kelas untuk melatih murid bertanya.

Contoh:

1. Melakukan aktifitas: The Question Game

The Question Game dapat digunakan sejak di tingkat SD. Metode ini memiliki tujuan mengkondisikan murid untuk berpikir lebih jauh mengenai topik pembelajaran yang sudah ia pelajari bersama-sama gurunya, dengan cara mengharuskan mereka mengajukan pertanyaan.

Cara melakukan the question game ini adalah dengan menggunakan dadu dengan pola sebagai berikut:

Setelah murid mengajukan pertanyaan, murid tersebut dan murid-murid lain diminta untuk memberikan pendapatnya mengenai jawaban dari pertanyaan tersebut. Guru akan menstimulasi pemikiran mereka dengan memberikan informasi serta pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang menuntun murid menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Dengan cara ini, setiap orang setidaknya memikirkan pertanyaan dan jawaban. Kalaupun mereka tidak mendapatkan jawabannya, dengan cara ini, kita telah mengkondisikan mereka untuk berupaya memikirkan pertanyaan dan jawabannya. Pengulangan metode ini secara regular akan memperkuat pola pemikiran murid, dan mendorong eksplorasi dan kreativitas murid. Hal ini cukup praktis diaplikasikan di berbagai kelas.

2. Aktivitas kedua: Socratic Discussion

Socratic Discussion adalah strategi pembelajaran kelompok yang dirancang untuk mengasah pemikiran kritis murid melalui diskusi. Murid akan belajar bersama dengan cara berdiskusi dalam format yang terbuka dan berpusat pada murid. Diskusi ini dipimpin oleh murid yang saling berdiskusi satu sama lain. Guru hanya berperan memberikan topik pembahasan.

Pendekatan ini harus mengedepankan proses inkuiri (penyelidikan) sebagai pembelajaran, murid harus diajar menganalisa dan mengevaluasi setiap pendapat-pendapat yang disampaikan dalam diskusi secara cermat berdasarkan pengetahuan yang telah mereka miliki.

Peranan guru tidak boleh melebihi 10% dari total diskusi. Guru hanya berperan dalam memfasilitasi pemeriksaan ide secara verbal dan kritis, memastikan diskusi yang ada tetap relevan terhadap topik pembahasan yang ada. Pada akhir diskusi, setiap murid harus dapat membuat kesimpulan dari apa yang mereka pelajari bersama dari diskusi yang ada. Guru akan berperan mengkonfirmasi atau merevisi apa yang mereka simpulkan.

Kesimpulannya, guru harus menjadi orang yang sangat kreatif sehingga melalui variasi aktivitas pembelajaran yang dilakukan, murid tidak hanya happy tetapi mau untuk belajar, dan secara khusus juga bertanya. Dari pembahasan kali ini, kita sama-sama dapat melihat bahwa kita perlu membantu murid mengembangkan keterampilan bertanya. Karena MURID YANG BERTANYA ADALAH MURID YANG BELAJAR.

Sumber: Rubi Mirayani, B.A., M.Pd. (Head Principal of Quiver Center Academy) dan Gillian Tampi, S.Si., S.E. (Logic & Rhetoric Teacher of Quiver Center Academy)

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2020. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut