Salam Sejahtera untuk para pendidik generasi baru Indonesia!!!

Pada kesempatan saat ini dalam “Kelas Pendidikan Klasikal” akan membahas Pendidikan Klasikal dengan Tema: “Seni dan Keindahan Menstimulasi Kerja Otak”.

Hal ini akan menjadi pembahasan yang sangat menarik, karena seringkali seni dan hal-hal yang indah atau berbau seni seringkali masih diabaikan dan kurang dianggap hal yang penting.

Jika kita mengingat kembali prinsip dari proses pembelajaran dalam pendidikan klasikal, kita akan mendapati bahwa pendidikan klasikal bukan hanya sekedar pola pembelajaran semata karena pendidikan klasikal memiliki 4 goal, yaitu:

1. Menghargai pengetahuan karena keuntungannya dan untuk kepentingan masyarakat.

2. Menjunjung  tinggi standard ketelitian, logika berpikir, keindahan, dan prinsip kebenaran yang (diintegrasi) dalam proses pembelajaran.

3. Mengutamakan standar moralitas.

4. Mempersiapkan manusia yang memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik.

Pada poin ke-2 dari apa yang dipaparkan di atas ada kata menjunjung tinggi keindahan, ketika kita mencoba mengamati. Selama ini kita sering sekali membahas tentang pendidikan klasikal dari sudut pandang akademis. Bagaimana anak-anak dilatih untuk berpikir kritis dengan logika berpikir yang menekankan terbangunnya sebuah framework to pursue the why and how. Yaitu anak-anak mengobservasi, memahami, menganalisis, mengevaluasi, mengkolaborasikan berbagai hal, semuanya akademis. sepertinya bagian dari poin keindahan itu terabaikan.

Apa sebetulnya yang dimaksud dengan keindahan dalam hal ini? Jika kita mendengar kata keindahan pasti biasanya selalu dikaitan dengan seni. Sebagai praktisi pendidikan jika kita bisa amati bersama, jika dibandingkan antara di luar negeri orang suka berkunjung ke museum art atau banyak art exhibition, sepertinya seni sangat menyatu dengan life style mereka.

Apakah ada hubungan antara seni atau keindahan dengan otak manusia?

Kedua hal tersebut tentunya sangat berhubungan. Ada sebuah riset yang meneliti tentang otak memberikan bukti bahwa kegiatan seni yang diintegrasikan dalam pendidikan memberikan keuntungan yang signifikan dalam proses pembelajaran. Seperti yang dijelaskan oleh Eric Jensen dalam bukunya Arts with the Brain in Mind menyatakan bahwa seni menumbuhkan berbagai sistem dalam otak kita, termasuk integrasi sensory, fokus, kognitif, emosional, dan kapasitas motorik, dimana semua sistem itu adalah merupakan daya dorong yang dibutuhkan dibalik semua pembelajaran.

Lalu Judith Burton, professor Art Education and Research, Teachers College, Columbia University, mengungkapkan bahwa mata pelajaran seperti matematika, sains, dan bahasa membutuhkan tidak hanya  kemampuan kognitif yang kompleks tapi juga  kapasitas kreatif yang ada di dalam pembelajaran seni pada umumnya. Artinya gagasan bahwa seni dan otak itu bekerja bersama-sama dan saling mendukung itu sudah diteliti dan terbukti.

Lalu, pada bagian-bagian manakah seni ini terdapat di dalam suatu proses pembelajaran?

Dalam Proses pembelajaran di sekolah Quiver Center Academy yang dilakukan, kita merancangnya dalam bentuk project based. Karena dengan metode project based, anak-anak dilatih untuk berpikir outcome apa yang mau dihasilkan ketika mempelajari satu konsep tertentu dalam mata pelajaran apapun. Dan outcome yang dihasilkan tidak hanya berupa hal-hal yang scientific saja tapi apabila kita amati ternyata mengandung unsur seni di dalamnya.

Kenapa selama ini banyak orang memiliki pandangan, seni hanya dari sisi scientific saja?

Kita ambil sebuah contoh, dalam melakukan project percobaan science, memang murid-murid akan melakukan eksperimen dan pasti ada observasi, dimana proses berpikir, menganalisis, dan mengevaluasi sudah terjadi. Namun setelah project percobaan science usai ketika murid-murid mendapat kesempatan mau mepersentasikannya mereka harus membuat display presentasinya, nah disinilah bagian dari keindahan seni harus dimunculkan. Karena untuk mempresentasikan hasil eksperimen yang murid-murid sudah lakukan, dalam bentuk media apapun sebagai penunjang, misalnya dalam media bentuk papan display.  Untuk membuatnya mereka harus mencari model papan seperti apa yang akan digunakan, warna yang akan dipilih, kemudian design seperti apa yang ingin dibuatnya. Perpaduan pernak pernik dan warna seperti apa yang ingin dipasang di papan tersebut. Bentuk tulisannya mau bagaimana. Ukuran tulilsannya sebesar apa. Gambar apa yang mau ditaruh di papan tersebut. Apakah gambarnya akan cari dari majalah, internet, atau mau digambar sendiri. Disitulah proses pembelajaran yang scientific terpadu dengan  unsur-unsur seni.

Apakah manfaat terhadap otak kita jika kita terus dapat berinteraksi dengan sesuatu yang berbau seni atau keindahan?

Memang sepertinya hal ini Bertolak belakang dengan konsep yang dipahami pada umumnya, bahwa seni hanyalah sekedar sesuatu yang indah, sesungguhnya seni mempengaruhi lebih dari sekedar apa yang kita lihat dan nikmati dengan mata visual. Bahkan beberapa penelitian membuktikan efek positif seni bagi otak dan kesehatan mental. Bahwa otak kita ini memang dirancang untuk memproses seni.

Beberapa bagian otak yang berhubungan dengan perenungan (contemplation) akan secara otomatis diaktivasi ketika kita melihat karya seni, bahkan ketika kita melihat tanpa memikirkan itu secara kritis. Jadi, kita sadari atau tidak, otak kita akan diaktivasi ketika kita melihat sebuah seni dan melakukan aktivitas seni. Jadi ketika kita melakukan sebuah pembelajaran, yang harus dilakukan adalah beri kesempatan kepada murid untuk menciptakan sesuatu hal tertentu berdasarkan konsep teori yang sudah dia pelajari. Apapun yang diciptakan olehnya selama itu dapat dinikmati dengan panca indera yang dimiliki oleh manusia, itu dapat kita artikan sebagai karya seni. Karena seni dalam definisinya adalah aneka ragam aktivitas manusia menciptakan sebuah karya secara visual, auditory, ataupun performing yang mengekspresikan imajinasi, konsep, ide, dan keterampilan teknik sang pencipta yang sengaja dibuat dengan tujuan agar keindahan dan kekuatan emosi yang ada di dalamnya dapat dinikmati dan diapresiasi.

Kesimpulannya adalah metode pendidikan klasikal tidak sekedar hanya melatih kemampuan akademis seorang anak, tapi melatih dan memberdayakan the tools of learning, yaitu otak anak itu sendiri, secara menyeluruh yang artinya bagian scientific dan seni.  Supaya hasil akhir dari proses pembelajaran klasikal adalah menjadikan setiap anak menjadi manusia yang seutuhnya.

Sumber: Rubi Mirayani, B.A., M.Pd. (Head Principal of Quiver Center Academy) dan Anneke Theresia (Logic’s Teacher of Quiver Center Academy)

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2021. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut