Salam sejahtera para pendidik generasi baru Indonesia!!!

Pada kesempatan ini “Kelas Pendidikan Klasikal” akan membahas Pendidikan Klasikal dengan Tema: WASPADA TERHADAP KEBIASAAN BARU.

Yang perlu diketahui setiap para Orangtua, dalam usia anak PAUD ada “rambu-rambu” yang perlu diperhatikan agar fondasi anak tidak mudah tergoyahkan, karena usia dini ini memang menjadi landasan untuk sebuah pendidikan si anak terutama pada metode klasikal yang ada pada sekolah Quiver Center Academy dimana ada 3 tahapan Grammar. Logic dan Rhetoric yang harus terjadi.

Usia dini adalah usia golden age dimana kita harus patuhi “rambu-rambu” dengan waspada agar bangunan yang akan didirikan tetap kokoh yaitu hidup dari anak-anak balita ini dimasa depan. Dimasa pandemic seperti ini proses pembelajaran jarak jauh, ada hal penting yang harus sama-sama kita cermati yaitu terbentuknya kebiasaan baru, bisa memunculkan adanya kebiasaan baik seperti; mencuci piring, merapikan(tidy up), tapi bisa juga munculnya kebiasan buruk, misalnya; bangun tidur menjadi lebih siang atau menjadi lebih suka beramin HP/gadget. Nah kebiasaan ini yang harus kita waspadai terutama pada penggunaan GADGET dan bukan gadgetnya tapi kebiasaannya yang perlu kita hindari terhdap anak-anak kita.

Mengapa?

Ada radiasi di HP, juga ketika mengakes internet ada banyak konten yang dimana tidak semua konten di internet sudah layak di konsumsi oleh anak-anak kita di masa usia dini mereka, di usia mereka yang belum cukup matang untuk membedakan mana yang benar atau salah, dan dari konten-konten yang belum layak di konsumsi oleh mereka di usianya yang kemungkinan besar dapat merusak pemikiran anak atau malah dapat membuat kecanduan gadget dan terlebih lagi efek dari gadget yang dapat menghambat perkembangan anak.

Apa saja efek negatif dan bahaya gadget pada balita?

Sebuah artikel berjudul The Ill-Effects of Modern Day Gadgets on Toddlers, atau bahaya gadget pada anak usia dini:

1. Menghambat perkembangan kognitif.

Para peneliti menunjukkan pengaruh berlebihan dari gadget dapat memperlambat perkembangan kognitif, gangguan fokus, dan bahkan memperlemah daya dengar karena otak bayi sesungguhnya berkembang sangat cepat dari sejak mereka bayi. Sehingga orang tua harus rajin berikan simulasi dengan berbagai aktifitas aktif untuk merangsang bekerjanya otak mereka seperti belajar untuk mengucapkan kata –kata, membaca, bernyanyi, berpantun sederhana, bahkan bercakap-cakap dan jangan berikan aktifitas pasif yaitu menonton TV atau tayangan di HP.

2. Mengalami keterlambatan tahap perkembangan secara fisik.

Pada Masa balita adalah masa aktif-aktifnya untuk belajar berjalan, melompat, merangkak, memanjat, bermain dengan balok maupun jenis mainan lainnya. Jadi bisa kita bayangkan apabila semua aktifitas tersebut digantikan dengan kegiatan yang hanya duduk melekat di sofa sambil menonton TV ataupun bermain game online. Bukannya motorik mereka terlatih dengan baik, tapi justru perkembangan mereka mengalami keterlambatan dan bahkan obesitas karena duduk terus didepan layar kaca. Ratey, seorang doctor di  Harvard, dalam bukunya, Spark: The Revolutionary New Science of Exercise and the Brain, menyatakan bahwa aktifitas fisik yang dilakukan akan mengaktifasi kerja otak. Artinya semakin kita aktif, semakin kognitif kita terbangun dan bekerja semakin maksimal.

(Less Active Play Equals Delayed Development)

3. Menghambat hubungan sosial.

Ketika anak-anak dan gadget menjadi tidak terpisahkan, kehidupan sosial merekapun juga akan semakin menurun. Dan apabila kebiasaan ini tidak segera dihentikan, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang memiliki interaksi yang buruk dengan orang lain. Contohnya: cepat marah ketika tidak sengaja bersinggungan dengan seseorang, tantrum ketika keinginannya tidak dipenuhi, kasar ketika meminta sesuatu.

4. Terlambat bicara untuk anak balita.

Semua orang tua akan merasa sedih jika anaknya tidak bisa berkomunikasi dengan lancar, dan menurut American Adademy of Pediatrics (AAP), ketika anak menonton tayangan yang tidak berisi pendidikan lalu anak menjadi adiktif dengan tayangan tersebut, mengakibatkan terjadinya keterlambatan di area Bahasa. Karena tidak disimulasi untuk berbicara.

Tabel yang berisi batas limit anak menonton TV maupun gadget berdasarkan beberapa tipe konten:

Jadi jika melihat dari table ini anak 0-2 tahun seharusnya tidak boleh sama sekali diberikan tayangan apapun dari manapun, lalu 3-5 tahun 1 jam per hari dan hanya tayangan yang tanpa kekerasan. Atau yang edukatif.  Dan 1 jam nya juga harus di bagi selama 1 hari tidak full 1 jam secara terus menerus.

Sumber: Rubi Mirayani, B.A., M.Pd. (Head Principal of Quiver Center Academy) dan Mustika Dewi Widjaja (Kindergarten’s Principal of Quiver Center Academy)

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2021. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut