Quiver Center Academy– Adduhhhh ani…. !!! ini handuk kamu coba ya dibereskan….. yaa ammpunnn ini kamar koq kaya kapal pecah ya… kapan mau dibereskan.. Kata2 seperti itu sering sekali terdengar di rumah tangga dengan anak berusia remaja 12-18 tahun. Atau ada yang lebih extreme anak – anak usia 12-18 tahun mulai kecanduan bermain gadget. Dan menjadi sulit diatur dan mau – maunya sendiri. Hal itu menjadi fenomena yang malanda remaja dimanapun. Apakah memang semua anak milineal adalah anak pemberontak dan anak pemalas?

Sebelum memberikan penghakiman kepada anak remaja Milenial mari kita lihat beberapa pendapat dari para psykolog . Yang paling utama adalah kita mengerti teori Bapak psikososial Erik Erikson, beliau menetapkan 8 level kehidupan dan anak – anak usia 12-18 masuk dalam katagori Identity VS. Role Confusion ( identitas VS Kebingungan Peran) yaitu masa dimana setiap orang akan mempertanyakan siapa aku, apa yang kuyakini benar, mana norma yang benar dan mengapa. Diusia ini perkembangan seseorang memang dikatakan sedang mencari jati diri, karena perubahan- perubahan secara fisik karena masuk di masa pubertas.

Selain itu anak di usia 12-18 sedang berada di periode hidup banyak hal yang belum terselesaikan secara mental dan emosi dimasa kanak-kanak sehingga mereka tidak siap untuk menghadapi perubahan- perubahan yang terlihat sangat nyata pada perubahan bentuk tubuh juga hormon yang memicu keinginan-keinginan secara seksual yang belum siap mereka hadapi. Mereka juga mulai lebih menyadari dan ingin ada di dalam satu komunitas yang lebih dewasa, namun belum dapat sepenuhnya mengerti pemikiran seorang yang sudah lebih dewasa sehingga menimbulkan perasaan –perasaan tidak nyaman dan canggung.

Fraser dan Fielding , 2012 mengatakan dalam journal mereka, bahwa anak – anak usia 12-18 memang sedang mengalami krisis identitas, mereka kesulitan menemukan posisi mereka untuk bisa melakukan komitmen, sehingga hasilnya mereka dibebani dengan rasa bersalah, canggung, kawatir yang sangat besar yang akhirnya memuat pikiran jernih mereka jadi kalut dan galau. Situasi yang sering timbul adalah orang tua dari anak-anak di usia 12-18 melihat tampilan fisik yang sudah seperti orang dewasa, lalu menuntut dan berekspektasi untuk anak- anak ini menjadi dewasa dalam pemikiran, dalam bersosialisasi, dan secara emosi. Namun pada kenyataannya mereka belum dapat memenuhi ekspektasi orang tua atau guru.

Ada satu hal penting yang seringkali tidak dimengerti orang tua dan guru dijelaskan oleh Blakemore; dia menyatakan bahwa ada dua system dalam perkembangan otak yang berkerja pada kecepatan yang berbeda. Yang pertama system limbic yaitu bagian dari otak yang membuat seseorang berani untuk mencoba hal yang baru dan beresiko dan bagian dari otak ini berkerja lebih cepat dari prefrontal cortex yaitu bagian dari otak yang menahan seseorang untuk berani mengambil resiko, jadi terjadilah “kekacauan” atau ketidak selarasan dalam pergerakan dan perkembangan dari kedua system kerja otak tersebut.

Secara sederhana artinya ketika bagian dari system kerja otak yang gemar untuk melakukan hal yang menantang dan beresiko berkembang lebih cepat dibandingkan dengan yang menahan untuk melakukan hal tersebut, akibatnya adalah kecenderungan yang memicu anak – anak usia 12-18 melakukan hal – hal yang kita para orang tua dan guru geleng kepala karena mereka melakukan hal yang sangat tidak dewasa.

Selanjutnya yang perlu orang tua dan guru ketahui adalah bagian system kerja otak prefrontal cortex ini yang membuat seseorang memiliki kemampuan untuk berencana. Jadi ketika anak – anak di usia 12-18 ini alami kesulitan untuk mengatur waktu membuat PR, atau belajar untuk ulangan, atau bahkan lupa mengerjakan PR dan belajar itu disebabkan karena memang bagian dari system kerja otak untuk melakukan hal tersebut sedang berkembang. Jadi itulah sebabnya anak – anak di usia 12-18 ini seringlkali menunjukan tingkah laku yang menyebalkan , memberontak dan acuh tak acuh tehadap lingkungan dan khususnya terhadap orang tua dan guru.

Jadi apa yang harusnya kita sebagai pendidik lakukan untuk anak usia 12-18 tahun ini?

Hal pertama yang harus disadari adalah menambahkan hukuman dengan mengambil gadget mereka atau hal lain yang mereka sukai tidak lagi bisa efektif seperti saat mereka di usia sekolah dasar. Yang justru dapat terjadi adalah anak- anak kita menjadi seseorang yang suka berbohong dan bermuka dua, hanya untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Dan hal ini kita sebagai pendidik tidak inginkan terjadi.

Jadi harus bagaimana?

1. Sebagai orang tua dan guru kita harus memberi dorongan untuk mereka memiliki motivasi untuk melakukan yang benar dari dalam hati mereka. Caranya?

a. Berdiskusi untuk mencari solusi bersama tentang hal yang kita ingin lihat terbangun dalam diri mereka.

b. Ajak untuk melakukan satu hal bersama misalnya membereskan kamar.

c. Rayakan keberhasilan bersama dengan mungkin makan makanan kesukaan mereka. Ketika bekerja bersama akan tercipta keeratan antara orang tua dan anak.

2. Ciptakan rasa kepuasan batin. Dengan cara biarkan mereka mengerjakan secara mandiri, ketika mereka berkata saya bisa sendiri, beri ruang untuk mereka melakukannya. ( Flink, Boggiano, & Barrett, 1990; Krapp, 2005; Patall, Cooper, & Wyss, 2010)

3. Bangun rasa otonomi yaitu kebebasan untuk memilih, dalam hal ini lakukan diskusi untuk memberikan arahan dan saran sehingga mereka akan memilih hal yang benar.

4. Biarkan mereka melihat kemampuan yang mereka miliki dengan cara menggali kesukaan mereka dan membiarkan mereka melakukannya.

5. Biarkan mereka memecahkan masalah yang dihadapi sambil dilakukan pemantauan dalam jarak yang jauh, sehingga anak akan merasa dihargai dan dipercaya.

6. Di dalam sekolah anak usia ini harus dilatih untuk melihat kemampuan dan kekurangan teman mereka, lalu berbesar hati untuk menerima dan saling melengkapi, sehingga terbangun keterampilan interpersonal (Ryan, Stiller, & Lynch, 1994), yang akan menunjang keinginan untuk meraih keberhasilah secara akademis karena menerima dukungan dari teman. Dan ini sangat selaras dengan teori Vygotsky dimana usia ini mereka belajar dan berkembang karena terdorong oleh teman usia sebaya.

7. Di usia ini mereka tidak lagi bisa didikte, biarkan mereka lakukan apa yang mereka pikir benar dengan pendampingan pastinya.

8. Carol Dweck mengatakan dalam penelitiannnya bahwa ketika orang tua dan guru terus menerus memuji keberhasilan anak, hal itu justru akan membuat dia menjadi malas untuk mencoba lebih lagi atau menjadi cepat puas hati. Pujian diberikan bukan untuk hasil pencapaian tapi untuk kerja keras yang diberikan saat melakukan tugas mereka.

9. Sebagai orang tua hargai keputusan anak – anak untuk memilih jenjang pendidikan yang lebih tinggi, artinya berikan ekspektasi yang terjangkau dan bukan hal yang terlalu tinggi. ( Price)

Sebagai kesimpulan semua anak, diciptakan Tuhan secara unik dan berbeda satu dengan yang lainnya, dan mereka harus melewati tahapan dalam hidup mereka, sebab itu sebagai orang tua dan guru berikan dukungan moril dan terus percaya bahwa mereka tetap anak- anak yang mengasihi orang tua dan guru mereka.

Penulis : Rubi Mirayani, B.A., M.Pd. (Head Principal of Quiver Center Academy)

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2020. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut