Di pertengahan Maret 2020 tepatnya 11 Maret 2020, WHO menetapkan wabah oleh koronavirus SARS-C0oV-2 menjadi pendemi, artinya wabah yang telah menyebar ke seluruh dunia, padahal awalnya hanya terjadi di Wuhan RRC di Bulan December 2019. Sejak Maret sampai akhir April ini sudah kurang lebih 2.000.000 kasus Covid -19 di lebih dari 200 negara di seluruh dunia.

Dan inilah pandemic yang pertama kali dialami oleh Generasi abad 21, semua kita terkena dampak dari wabah Covid-19 ini secara materi, mental dan fisik. Lalu sebagai pendidik apa yang dapat kita ambil hikmahnya dalam proses mendidik anak-anak?

Di kota-kota besar di Indonesia anak-anak yang lahir di abad 21 ini adalah anak-anak yang terlahir dari kemapanan, secara moril dan materil. Karena  kebanyakan mereka terlahir dari orang tua yang sudah menikmati kesejateraan yang cukup merata yang menakibatkan anak-anak ini menjadi generasi “easy going dan easy life”;  sehingga menjadi anak- anak yang kurang tangguh, kuranga gigih dan yang lebih buruknya kurang memiliki rasa empati / peduli terhadap sekitar mereka. Mereka memang anak-anak yang pandai dan cerdas karena asupan gizi yang sudah sangat baik, namun sedihnya mereka menjadi anak-anak yang sangat kurang dalam hal rasa peduli terhadap sesama.  Kekurangan rasa peduli ini bukan hal yang mereka inginkan, semuanya terjadi karena pola hidup yang easy going dan easy life” itulah yang membentuk sudut pandang mereka terhadap sekitar mereka menjadi sangat rendah.

Nah, justru terjadinya  Pandemic Covid-19 menjadi masa yang sangat baik untuk kita para pendidik melihat peluang lebar untuk membangun rasa peduli di dalam hidup anak-anak. Kususnya anak-anak di usia tingkat SD, SMP dan SMA. Dimana menurut Erik Erikson anak-anak di usia ini ada di tingkat kehidupan secara psikologi social,  sedang ingin melakukan sesuatu yang berguna ( usia SD) dan masa  pencaharian identitas diri (usia SMP dan SMA), jadi ini adalah periode yang sangat baik untuk para pendidik melakukan revolusi mental. Mental untuk peduli dan tanggap terhadap kebutuhan orang yang alami kesusahan dampak dari pandemic ini.

Saran yang dapat dilakukan :

  1. Untuk anak usia SD :
  • Ajak mereka melihat kebutuhan orang lain.
  • Beri mereka penjelasan yang sesuai usia mereka, akan apa yang terjadi hari-hari ini mengapa mereka harus “stay at Home”, apa yang dapat terjadi pada orang yang terjangkit Virus ini, dan jelaskan apa yang bisa terjadi saat orang tidak bisa lagi berangkat untuk kerja.
  • Setelah dorong dan bantu mereka untuk membuat tulisan doa, puisi atau eskpresi perasaan mereka untuk bangsa, dapat juga merekam doa dan nyanyian mereka sebagai tanda kepedulian lalu di posting di IG dan FB(media sosial) orang tua mereka.
  • Ajak mereka untuk terus berdoa untuk dokter dan perawat juga relawan yang menangani pasien Covid-19. Juga berdoa untuk pejabat pemerintah serta Presiden agar ada hikmat Tuhan untuk atasi musibah ini.

2. Untuk anak usia SMP dan SMA :

  • Karena mereka sudah dapat membaca, mendengar dan mengerti apa yang sedang terjadi, berdiskusi dengan mereka apa yang mereka bisa lakukan walaupun mereka ‘stay at home”.
  • Ajak mereka berpikir dampak apa yang sudah mulai terlihat, buat mereka dapat melihat bahwa dampak wabah ini bukan saja secara fisik tapi ada dampak yang jauh lebih besar yang sedang terjadi yaitu krisis ekonomi. Dan ajak mereka berpikir untuk mencari solusinya.
  • Ajak mereka untuk tidak saja berdoa tapi melakukan sesuatu, seperti melihat aksi social apa yang orang lain sedang lakukan untuk menolong dan tanyakan apa yang bisa mereka lakukan untuk ikut serta dalam aksi social tersebut.
  • Ajak mareka untuk memakai gadget dan social media yang mereka miliki tidak hanya untuk bersosialisasi tanpa dampak untuk orang lain, tapi justru memakai sarana tersebut untuk menyampaikan pesan-pesan yang dapat memberkati orang lain.
  • Ajak mereka berpikir untuk dapat merancang serta melaksankan suatu gerakan aksi social, dimana mereka bisa menggerakan sekelompok teman untuk mewujudkannya.

Akhirnya, mari kita sebagai Pendidik, Orang tua di rumah dan Guru dimasa e-learning ini jadikan proses pembelajaran di rumah sebagai media untuk membangun rasa empati anak-anak kita.

Penulis : Rubi Mirayani, B.A., M.Pd. (Head Principal of Quiver Center Academy).

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2020. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut