Salam sejahtera para pendidik generasi baru Indonesia!!!

Pada kesempatan ini “Kelas Pendidikan Klasikal” akan membahas tentang Apakah Metode KLASIKAL Dapat Menjawab Kebutuhan Pendidikan di Era Digital?

Pendidikan adalah Seperti Bangunan Besar, karena dalam metode pendidkan klasikal, pendidikan sama halnya seperti sebuah proses membangun satu bangunan yang besar, oleh karena itu dibutuhkan fondasi yang kokoh. Fondasi ini harus diperhatikan dan dibangun sedari awal, sehingga setinggi apapun nantinya bangunan yang dibangun di atasnya, akan tetap kokoh berdiri.

Pendidikan klasikal berlandaskan pada tiga tahapan proses pembelajaran yang dikenal dengan nama Trivium: yaitu tahap Grammar, Logic, dan Rhetoric. Tahap Grammar adalah tahapan anak usia Sekolah Dasar (SD), dimana pikiran mereka berfungsi seperti spon yang siap untuk menyerap infomasi apapun yang diberikan, sehingga semua itu menjadi dasar dan kerangka berpikir untuk level selanjutnya.

Kemudian naik tahapan berikutnya yaitu Logic, usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana kemampuan kognitif setiap anak sudah mulai lebih analitis, yaitu mereka memahami hubungan sebab dan akibat, juga kapasitas untuk berpikir secara abstrak mulai bertumbuh. Sebab itu mereka bisa berargumentasi dengan landasan teori yang sudah diketahui, lalu menghubungkan antara berbagai hal yang berbeda dalam satu kerangka berpikir yang logis. Dan selanjutnya, tahap Rhetoric yaitu usia Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terbangun berdasarkan dua level sebelumnya – Grammar dan Logic. Di level ini mereka belajar untuk menulis dan menjadi “Public Speaker”, mengekspresikan pikiran mereka dengan jelas, berbobot, dengan menggunakan bahasa yang elegan.

Dari setiap tahapan proses pembelajaran dalam pendidikan klasikal ini, selain pola pembelajaran, pendidikan klasikal juga memiliki 4 tujuan, yaitu:

1. Menghargai pengetahuan karena keuntungannya dan bertujuan untuk  kepentingan masyarakat.

2. Menjunjung  tinggi standar ketelitian, logika berpikir, keindahan, dan prinsip kebenaran (yang diintegrasikan) dalam proses pembelajaran.

3. Mengutamakan standar moralitas.

4. Mempersiapkan manusia yang memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik.

Setiap murid dibentuk menjadi pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri, teliti, menghargai keindahan dalam seni maupun alam, dapat berpikir secara logis, dan bermoral tinggi, supaya satu hari nanti mereka akan dapat memberikan kembali semua ilmu pengetahuan yang didapatnya untuk bangsa dan negaranya. Dan hal itu semua seperti membangun satu bangunan, yang tidak dapat terwujud dalam satu malam karena dibutuhkan fondasi yang sangat kokoh.

Berbicara tentang pendidikan, kami yakin orangtua pasti ingin dapat memberikan pembelajaran yang terbaik bagi anak-anaknya. Kita tahu banyak macam sekolah menawarkan pembelajaran dengan berbagai metode dan fasilitas. Dan kami percaya setiap sekolah pasti memiliki kelebihannya masing-masing. Tetapi apakah setiap sekolah dapat menjawab permasalahan/ kebutuhan yang ada saat ini? Secara umum kami melihat, di Indonesia, permasalahan yang kita hadapi bersama adalah menurunnya kualitas sumber daya manusia – terutama kualitas generasi muda bangsa ini. Berbicara tentang kualitas, kami mau kita sama-sama memahami bahwa ini bukan hanya bicara tentang area akademis. Dan jika dikaitkan dengan paparan di atas bahwa tujuan dari pendidikan klasikal adalah untuk kepentingan masyarakat, menjunjung tinggi standard ketelitian, logika berpikir, keindahan, dan prinsip kebenaran yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Juga mengutamakan standar moralitas sehingga peserta didik menjadi manusia yang memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik… Itu semua berbicara mengenai kualitas hidup seorang manusia, dan bukan hanya di area akademis semata.

Apakah metode klasikal bisa menjawab kebutuhan bangsa ini untuk mencetak anak-anak yang berkarakter? Dan apakah hanya karakter saja yang dikedepankan? Itulah yang akan kita bahas: “Apakah Metode Klasikal Dapat Menjawab Kebutuhan Pendidikan di Era Digital Ini?”  

Ketika kita sama-sama mencoba untuk menelaah dari mana asal muasal pendidikan klasikal ini. Memang pendidikan ini berdasarkan metode pembelajaran pada zaman Yunani dan Roma, sehingga terkesan jadul dan tidak up to date. Namun, apabila kita pelajari lebih lanjut, sesungguhnya pola pendidikan klasikal ini sedang mengembalikan the Lost Tools of Learning – perangkat pembelajaran yang terhilang. Dimana sebetulnya tujuan akhir dari proses pembelajarannya adalah membuat murid dapat belajar secara mandiri, menjadi guru bagi dirinya sendiri dengan memberdayakan the Lost Tools of Learning tadi… atau perangkat pembelajaran yang telah terhilang berabad-abad lamanya. Sehingga pada akhirnya, setiap anak mengerti cara memberdayakan tools atau perangkat untuk belajar yang ada di dalam diri mereka, di dalam kehidupan yang Tuhan berikan. Itulah esensi pendidikan klasikal.

Jadi apapun eranya, digital atau non digital, selama prinsip – prinsip pembelajarannya tetap diterapkan dengan benar – yaitu memberdayakan perangkat pembelajaran yang telah terhilang, maka setiap murid pasti akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang diharapkan.   

Apa yang mebuat hal itu bisa terjadi?

Hal itu dapat terjadi karena proses pembelajaran klasikal melatih the Tools of Learning atau perangkat pembelajaran yang telah terhilang yang ada di dalam diri peserta didik. Proses ini melatih setiap anak untuk dapat mengaplikasikan setiap pengetahuan yang dipelajari dan mencari hasil yang bermakna serta bermanfaat untuk diterapkan di masa mendatang. Dan semua hal tersebut akan tersimpan di dalam kehidupan mereka sampai kapanpun. Sedangkan mengenai digital dan non digital itu adalah media pembelajaran yang artinya perangkat yang berasal dari luar diri mereka.

Bagaimanakah hubungan antara proses pembelajaran klasikal yang memberdayakan perangkat pembelajaran yang telah terhilang, dengan penggunaan perangkat dari luar yaitu digital? Apalagi disaat kita sedang melakukan pembelajaran jarak jauh seperti ini.

Metode pembelajaran klasikal sangat bisa diaplikasikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan secara digital, e-learning, daring seperti saat ini, dimana situasi tidak memungkinkan untuk kita berkumpul dan belajar di sekolah. Karena Pendidikan klasikal melatih proses berpikir yang menekankan pentingnya ada framework to pursue the why and how. Dalam proses pembelajaran secara daring dengan menggunakan metode klasikal, pertanyaan-pertanyaan dan project yang kami rancang mengkondisikan anak-anak untuk mengobservasi, memahami, menganalisis, mengevaluasi, mengkolaborasikan berbagai hal, dan mengkomunikasikan solusi yang ditemukan secara lisan maupun tulisan.

Seperti apa wujud aplikatif project itu dilakukan?

Banyak contoh yang dapat kita lakukan, seperti: Kita meminta murid untuk membuat project instructional video. Sebelum mereka memutuskan apa yang hendak mereka tampilkan di video, proses observasi harus terjadi terlebih dahulu. Mereka mengingat ulang berbagai pengetahuan yang pernah mereka lihat, dengar, rasakan, ataupun alami sebelumnya. Ada seorang murid akhirnya memutuskan dia mau memvideokan cara membuat simpul. Kemungkinan anak ini pernah ke suatu tempat dimana dia melihat bagaimana orang menggunakan berbagai macam simpul dalam kegiatan sehari-hari. Dia melihat ini adalah hal yang bermanfaat, dan itu adalah proses menganalisis dan mengevaluasi. Kemudian dia belajar dan memahami cara membuat simpul, sehingga akhirnya dia dapat mengajarkan cara membuat simpul itu kepada orang lain.  Setiap proses pembelajaran harus terjadi dalam framework to pursue the why and how.

Oleh karena anak-anak dilatih untuk memberdayakan perangkat pembelajaran yang telah terhilang, yang ada dalam diri mereka, atau dengan kata lain proses berpikir, jadi mereka akan dapat memakai media apapun karena memang perangkatnya ada di dalam kepala mereka, yaitu otak mereka.

Kalau kita perhatikan, banyak orang di bangsa kita hari-hari ini menuntut untuk terjadinya ini dan itu, tetapi tidak banyak orang yang dapat melihat dengan jelas akar permasalah yang ada, dan memikirkan solusi yang tepat. Hal itu disebabkan karena kurangnya kemampuan proses kerja otak untuk menghubungkan semua hal yang terjadi sehingga akhirnya dapat menemukan jalan keluar/solusi. Di sinilah Quiver Center Academy melakukan peranan kami untuk memastikan anak-anak ini tumbuh menjadi generasi yang berbeda. Generasi yang memiliki karakter yang berbeda dan mampu memikirkan solusi.

Kesimpulannya, pendidikan klasikal dapat menjadi jawaban untuk masalah pendidikan pada zaman ini karena setiap murid akan dapat memberdayakan perangkat pembelajaran yang telah terhilang di dalam pemikiran mereka.

Sumber: Rubi Mirayani, B.A., M.Pd. (Head Principal of Quiver Center Academy) dan Anneke Theresia (Logic’s Teacher of Quiver Center Academy)

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2020. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut