Tanpa terasa, kita telah memasuki babak akhir dari tahun ajaran 2019/2020. Kondisi Luar Biasa (KLB) yang tengah kita hadapi memang menuntut berbagai perubahan dan penyesuaian dalam proses pembelajaran yang dilakukan, tetapi puji Tuhan kita dapat melewatinya dengan sangat baik berkat kerja sama dan dukungan yang luar biasa dari Bapak dan Ibu.

Meski ada berbagai ketidaknyamanan ataupun keterbatasan yang dialami selama proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini, saya mendapati semua yang terjadi justru menjadi masa pembelajaran dan pelatihan untuk kita semua, sehingga mulai terbangun keterampilan baru, juga kreatifitas dan inovasi bermunculan dari dalam diri anak-anak kita.

Karenanya, mari kita terus menatap hari esok dengan penuh pengharapan, karena di setiap kondisi dan situasi, Tuhan masih tetap bekerja mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.

Once again, my deepest gratitude to all great and awesome parents for your
wonderful support to us. Let us keep lifting our prayers for Indonesia and the world that after this pandemic is over, we will come out even stronger than before. God bless you all!

Tujuan Pembelajaran di masa pandemi

Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei yang lalu, Ketua umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Provinsi Jawa Barat, Anwar Sanusi, M.Pd. membagikan apa yang seharusnya menjadi fokus dan tujuan pencapaian utama selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini. Surprisingly, dari 4 (empat) tujuan pembelajaran yang disampaikan, pencapaian akademik ada pada urutan terakhir.

Lalu apa yang seharusnya menjadi tujuan pembelajaran di masa pandemi ini?

1. Pembiasaan yang baik.

Pembelajaran yang dilakukan dari rumah dengan minimnya pengawasan guru seperti saat di sekolah, dapat memicu terjadinya berbagai kompromi dan kelonggaran dalam kedisiplinan.

Mari mengkaji dengan pertanyaan-pertanyaan ini:
“Apakah anak bangun tepat waktu?”
“Apakah anak selalu hadir dalam kelas tatap muka daring dengan guru?”
“Apakah anak menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan penuh rasa tanggung jawab dan gembira?”

Mengapa kedisiplinan dan pembiasaan yang baik menjadi begitu
penting?

Penelitian yang dilakukan oleh Brown University di Rhode Island pada tahun 2015 menunjukkan bahwa kebiasaan seseorang akan terbangun dan mulai berakar ketika memasuki usia 9 tahun, di mana kebiasaan ini nantinya akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian akademik anak di masa yang akan datang.

Anak yang terbiasa menyelesaikan pekerjaan/kegiatan yang ia mulai, nantinya akan menjadi pribadi yang selalu menyelesaikan apapun yang ia kerjakan (baca: tidak nanggung ketika bekerja).

2. Life-skills.

The U.S. National Library of Medicine mengkategorikan hal-hal berikut ini sebagai life-skills: berbicara dan berkomunikasi, mengelola keuangan, melakukan pekerjaan rumah tangga (mencuci / menjemur baju, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dll), dan memelihara kebersihan diri (mandi, berpakaian, sikat gigi, dll.)

Pendidikan Life-Skills sangat penting untuk mulai ditanamkan sejak kecil, karena life-skills memperlengkapi anak dengan keterampilan memecahkan masalah (problem-solving) dan juga keterampilan untuk bertahan hidup (survival skill), namun pada saat yang sama menumbuhkan kemampuan mengatur diri sendiri (self-management) yang sangat dibutuhkan ketika anak beranjak dewasa.

3. Karakter.

Tanpa kita sadari, kehadiran perangkat elektronik dalam keseharian telah membuat ‘tumpul’ kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar. Sebab itu ada beberapa karakter penting yang perlu terus ditumbuhkan dalam generasi anakanak kita yaitu rasa empati, menghargai orang lain, kejujuran, dan tanggung jawab, Thomas J. Stanley, Ph.D, penulis buku Millionaire Mind, pernah melakukan riset tentang 100 faktor penentu kesuksesan seseorang. Riset dilakukan di Amerika dengan total 1001 responden, di mana 733 responden adalah miliuner, dan beliau mendapati bahwa 10 faktor utama penentu kesuksesan seseorang adalah soft-skill atau karakter.

Artinya, untuk mempersiapkan anak-anak kita menjadi orang sukses, pendidikan karakter dan moral mutlak ditanamkan dan ditumbuhkan secara konsisten dari sejak dini.

Dan ketahuilah bahwa untuk mendidik anak memiliki karakter yang jempolan ibarat seorang atlit rajin berlatih dengan pelatihnya, bapak dan ibu sebagai orang tua adalah pelatih yang paling tepat bagi anakanak, karena latihan tersebut sangat mudah dilakukan di rumah, hanya dengan cara memberikan teladan (role model) terhadap anak-anak.

Contoh sederhana yang dapat dilakukan di rumah adalah menunjukkan teladan mempraktekkan kejujuran dalam segala situasi, karena pribadi yang jujur secara otomatis akan menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Untuk menumbuhkan empati terhadap orang lain, ajak anak untuk mendoakan dan menunjukkan perhatian kepada orang yang kurang beruntung/membutuhkan bantuan.

4. Kemampuan akademik.

Seperti yang telah disampaikan, fokus pencapaian pada masa pembelajaran daring ini bukan pada keterampilan akademis, dan saya percaya ketika anak memiliki kebiasaan yang baik, life skill yang mumpuni, dan karakter yang istimewa, maka otomatis mereka akan memiliki kemampuan akademik yang tinggi.

Misalnya, dengan anak terlatih untuk menyusun jadwal kegiatan selama satu minggu, maka kebiasaan tersebut menjadi modal yang berharga ketika mereka menjadi pemimpin dengan jadwal yang padat.

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2020. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut