Dear parents,

Dalam Parents Meeting yang lalu Ms. Helen Ongko mengingatkan kita kembali kepada satu bagian Alkitab di kitab Ulangan 6:5-9, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulangulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Sesuai dengan nama sekolah kita (Quiver) yang artinya tabung panah, anak-anak kita adalah anak-anak panah yang siap untuk diluncurkan. Apakah anakanak panah yang akan dilesatkan tepat kena sasaran atau tidak, semua itu bergantung pada peranan pendidik khususnya di rumah.

SELF-DISCIPLINE – Why and How

Setiap keluarga harus memilik visi – yang adalah rancangan dan tujuan Tuhan. Dengan tujuan tersebut anak-anak dibimbing untuk melihat “nilai” atau self-identity (jati diri) mereka – betapa berharganya mereka di mata Tuhan. Dari sinilah akan terbangun self-discipline (kedisiplinan) yang akan membentuk karakter dan kebiasaan baik dalam diri anak-anak kita.

Membangun kedisiplinan bukanlah hal yang mudah. Matius 11:29 menggambarkan proses pendisiplinan seperti seseorang yang sedang memikul kuk.

Mengapa kuk? Kita tahu bahwa kuk adalah alat yang harus dipikul dan dipasangkan pada tengkuk sepasang hewan dari jenis yang sama dan memiliki ukuran dan berat yang tidak jauh berbeda, contohnya: lembu dengan lembu, kerbau dengan kerbau, agar keduanya dapat bekerja sama dengan baik dan mudah untuk diarahkan.

Gambaran dari kuk dalam keluarga adalah semua aturan yang dibuat dan mengikat untuk mencapai visi keluarga yang telah ditetapkan oleh kedua orang tua. Yang namanya aturan, sama seperti kuk pada hewan, bukanlah hal yang menyenangkan. Terkadang ada unsur paksaan, akan tetapi jika aturan dijalankan maka pasti akan tercipta keteraturan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga. Untuk dapat melangkah ke arah yang sama dan mencapai visi, orangtua harus terus mengarahkan dan memberikan teladan hidup bagi anak; itulah kuk bagi orangtua. Seperti kata pepatah: Anak adalah refleksi atau cerminan dari orangtuanya. Ketika orangtua memberikan teladan dalam disiplin waktu, anak pun pasti bertumbuh menjadi pribadi yang disiplin terhadap waktu yang dimiliki.

Dalam membangun kedisiplinan dibutuhkan kerjasama yang kuat antara orang tua dan anak, khususnya dalam hal kekonsistenan dan kesabaran. Di satu sisi, anak-anak harus mengerti “nilai” hidup mereka sehingga tumbuh kemauan untuk belajar disiplin dalam segala hal. Di sisi lain, orangtua melakukan proses pendisiplinan atau pemasangan kuk dengan rendah hati dan berkata, “Mari pikul kuk ini bersama-sama dan bekerja keras untuk mencapai tujuan.” Yakinlah, saat anak mengerti bahwa kuk yang mereka harus pikul ini adalah untuk kebaikan seluruh keluarga, mereka pasti akan memikulnya dengan senang hati.

Angela L. Duckworth, professor psikologi dari University of Pennsylvania, menjelaskan bahwa kedisiplinan bahkan mengalahkan IQ atau kecerdasan intelegensia dalam menentukan keberhasilan performa akademik seseorang, khususnya ketika orang tersebut nantinya berada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bukankah kerinduan semua orangtua bahwa suatu hari nanti anak-anak kita dapat mencapai setiap tujuan hidup yang Tuhan berikan atas mereka, dan tentunya dengan performa dan keterampilan yang di atas rata-rata?

Bagaimana cara membangun disiplin?

Hal terpenting yang dibutuhkan dari orangtua adalah waktu. Pertanyaannya: di tengah kesibukan Ayah dan Ibu, terutama di masa pandemi ini, bagaimana mungkin orangtua dapat menyediakan waktu untuk mendampingi dan memonitoring anak dari pagi sampai malam?

Langkah awal yang dapat dilakukan adalah meminta anak-anak – dalam hal ini anak yang berusia lebih besar (kelas 4-6) – untuk membuat target/jadwal harian yang ingin dicapai, dan setiap hari orangtua memeriksa apakah semua target/jadwal yang dibuat tercapai, dan jika tidak, mengapa.Anak-anak yang lebih kecil (kelas 1-3) dapat duduk bersama orangtua dan dibantu dalam menyusun target/jadwal harian tersebut.

Dalam menerapkan jadwal yang sudah dibuat, sangat penting untuk Ayah dan Ibu memiliki kesepakatan dan kekonsistenan, sehingga target maupun jadwal yang sudah dibuat dapat tercapai.

Saya berdoa, setiap kita akan terus memunculkan keteladanan hidup yang ilahi bagi anak-anak kita, sehingga ketika tiba waktunya menuai, kita akan menikmati tuaian yang terbaik yang sudah Tuhan sediakan. Tuhan memberkati!

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2021. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut