Dear parents,

Mendidik anak seyogyanya adalah tanggung jawab orang tua yang terdengar seoalah merupakan tugas berat untuk dilakukan. Apalagi di masa modern seperti ini, pada umumnya kedua orang tua terpaksa harus menghabiskan waktunya untuk bekerja atau terkadang sibuk dengan pelayanan; sehingga fokus untuk medidik anak tidak lagi menjadi prioritas utama.

Bagi kita yang memahami bahwa memiliki anak adalah anugerah Tuhan dan mendidiknya adalah sebuah kehormatan yang Tuhan berikan, maka situasi tersebut menjadi dilema besar. Lalu di masa pandemi ini, yang menuntut anak-anak untuk belajar di rumah bersama dengan orang tua hal tersebut menambah rasa bersalah dan menganggap bahwa tanggung jawab adalah hal yang mustahil untuk dijalankan. Sehingga tidak sedikit orang tua merasa tertekan dan akhirnya memilih untuk menyerah. Tapi jangan menyerah, saya percaya Tuhan kita akan selalu memberikan kekuatan kasih untuk dapat melakukan hal yang rasanya mustahil.

Saya percaya pada saat ini meski harus melalui banyak tantangan, berdasarkan misi dan visi dari Tuhan untuk QCA, di mana para guru dengan dukungan peran dan tanggung jawab orang tua dalam proses pembelajaran, maka anak- anak dapat tetap mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Dan hal ini selaras dengan apa yang diutarakan oleh Ibu Helen Ongko di dalam Parents Meeting pada tanggal 24 Oktober 2020 dengan topik : “Orang Tua Sebagai Tokoh Utama Pendidikan”.

Pengawasan Orang Tua Yang Konsisten

Peranan orang tua dalam melakukan pengawasan penuh terhadap pencapaiaan anak dapat memiliki kesadaran diri untuk bertanggung jawab sangatlah penting. Memang proses pengawasan ini selain memerlukan komitmen yang serius juga memerlukan pendekatan-pendekatan remaja yang efektif dan konsisten. Salah satu pendekatan remaja yang efektif adalah pendekatan yang berfokus pada optimalisasi pola pikir remaja dari struktur otak dan fungsinya.

Kita ketahui bahwa anak di usia remaja sepertinya sudah dapat berpikir selayaknya orang dewasa, namun pola berfikir remaja sangat berhubungan dengan perkembangan struktur otak dan fungsinya.

Dalam buku The Neuroscience, Profesor Adrianna Galvan mengatakan ada tiga bagian dari struktur otak yang perlu kita ketahui sehingga dapat mengerti bagimana cara mengawasi anak remaja agar mereka dapat menjadi orang yang sadar akan tanggung jawabnya.

Pertama, bagian Lobus frontal (pre frontal cortex) yang terletak tepat di belakang dahi, berfungsi dalam pengambilan keputusan, lobus frontal juga mengatur perencanaan, spontanitas, konsekuensi, pemecahan masalah, empati, serta perilaku sosial dan seksual, termasuk rasa bertanggung jawab. Karena otak berkembang dari belakang ke depan, maka lobus frontal menjadi bagian otak yang terakhir berkembang sempurna, yaitu ketika seseorang berusia 25 tahun. Sehingga memang saat di usia remaja, hal-hal tersebut belum terbentuk sempurna.

Kedua, bagian Sistem limbik, yaitu bagian otak yang mengatur emosi, motivasi, dan perilaku. Jika diibaratkan sebagai manusia, sistem limbik memiliki karakter emosional dan berani mengambil risiko. Sistem limbik berkembang lebih cepat daripada lobus frontal, inilah alasan anak remaja masih sangat memerlukan pengawasan yang cukup ketat karena kedinamisannya masih sangat fluktuatif. Sehingga banyak keputusan dan rasa tanggung jawab yang seringkali tidak ada.

Ketiga, adalah yang mengatur tentang penghargaan (reward system). Dibandingkan dengan anak-anak dan orang dewasa, striatum pada otak remaja merespon penghargaan lebih cepat. Tak heran jika remaja memiliki tingkat kegembiraan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Dengan pengetahuan tentang tiga bagian dari struktur otak, kita sebagai pendidik para remaja selayaknya memiliki kebesaran hati serta kesabaran yang lebih panjang, dan sering2lah memberikan pujian agar bagian Striatum teraktivasi dan mereka merasa dihargai. Saat mereka merasa senang dan dihargai maka akan lebih mudah bagian Lobus frontal teraktifasi yang artinya rasa tanggung jawab mereka akan ikut terbentuk.

Membangun Nilai -Nilai Kebenaran

Rasa tanggung jawab dapat menjadi kebiasaan jika melewati proses pembentukan yang bertahap, panjang dan konssiten serta disiplin diri yang tinggi, sebab itu sebagai pendidik dan orang tua, kita harus memiliki metode dan nilai yang selaras ketika melaksankan proses tersebut. Kita harus bersamasama mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa mereka sudah dibeli dan ditebus dengan kuasa darah Kristus, sebab itu mereka sangat berharga dan ada tujuan yang mulia dari Tuhan untuk hidup mereka. Dengan prinsip tersebut kita dapat mengajarkan mereka agar bertingkah laku yang memuliakan nama Tuhan dan rasa tanggung jawab serta disiplin diri termasuk di dalam hal yang memuliakan Tuhan.

Tanggung Jawab Orang Tua

Puji Tuhan karena Dia menciptakan manusia dengan struktur otak yang luar biasa. Dan ketika kita sebagai pendidik mengerti cara kerja dan fungsinya, ditambah dengan pengenalan yang kuat akan prinsip kebenaran, saya yakin apa yang menjadi visi QCA untuk setiap anak menjadi pemimpin besar bangsa dapat tercapai, karena kita percaya anak-anak remaja kita memiliki cara berfikir, bertindak dan berkata-kata yang selalu menjadi berkat bagi banyak orang.

Saya berharap kita dapat selaras memahami betapa pentingnya kekonsistenan untuk melatih anak kita memiliki kebiasaan yang positif dalam diri mereka. Ketika ada masalah timbul, mari kita latih untuk bersikap kooperatif untuk menyelesaikannya, lalu berkoordinasi dengan baik dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Bantu mereka untuk bersikap serius dalam mengerjakan sesuatu dengan memaparkan tujuan dari hal yang ingin diraih.

Saya bersyukur dapat melihat rasa tanggung jawab yang mulai terbangun di dalam diri anak- anak. Mereka bertanggung jawab terhadap keberhasilan temannya di saat ada yang terlihat alami kesulitan dalam proses pembelajaran mereka dengan sigap langsung berikan dukungan dan pertolongan. Mereka juga sudah menunjukan sikap rajin dan tekun selama proses pembelajaran berlangsung, yang artinya rasa tanggung jawab atas apa yang harus dilakukan sudah terbentuk.

Jadi, saya sangat yakin bahwa setiap orang tua murid QCA pasti dimampukan Tuhan menyelesaikan misi muliaNya yaitu menjadi pemeran utama dalam pendidikan anak, karena dapat melihat proses pembentukan karakter di dalam diri anak-anak adalah tanggung jawab yang ringan dan menyenangkan.

Leave a Comment

Quiver Center Academy will prepare the next generation of leaders who will take responsibility for repairing the ruins and revealing the destiny of this nation. Therefore, QCA will take on the role as a catalyst to this nation, to bring a new future of prosperity and peace

Subscribe to Our Article

Quiver Center Academy Team © 2021. All rights reserved.

× Informasi lebih lanjut